Sistem Informasi Desa Srowot
Kelompok pengrajin batik di Desa Srowot, Kecamatan Kalibagor, mulai menunjukkan kebangkitan setelah sempat vakum selama beberapa tahun. Melalui program pelatihan digitalisasi yang meliputi pemasaran daring dan pencatatan keuangan modern, para pengrajin kini memiliki peluang baru untuk mengembangkan usahanya.
Kegiatan ini terlaksana berkat dukungan Pemerintah Desa Srowot serta pendampingan dari tim dosen dan mahasiswa Universitas Muhammadiyah Purwokerto (UMP). Program yang berlangsung sejak Februari hingga Juli 2025 ini bertujuan membekali pengrajin dengan keterampilan praktis agar mampu beradaptasi dengan perkembangan teknologi.
Dalam pelatihan tersebut, para pengrajin diajarkan membuat akun bisnis di media sosial dan marketplace seperti Instagram, Facebook, Tokopedia, dan Shopee. Mereka juga mendapatkan materi tentang teknik foto produk, pembuatan konten promosi, serta strategi branding agar batik Srowot memiliki identitas yang kuat dan mudah dikenali.
Selain pemasaran, aspek pengelolaan keuangan juga menjadi fokus penting. Pengrajin dikenalkan pada pencatatan digital menggunakan aplikasi sederhana seperti Excel dan siAPIK agar laporan keuangan lebih rapi, transparan, dan mudah dianalisis.
Hasil pelatihan menunjukkan perkembangan positif. Pemahaman peserta mengenai pemasaran digital meningkat signifikan, dan beberapa anggota kelompok sudah mulai menerima pesanan dari luar wilayah Desa Srowot melalui platform daring.
Kepala Desa Srowot menyampaikan bahwa digitalisasi ini tidak hanya berdampak pada peningkatan ekonomi masyarakat, tetapi juga menjadi upaya pelestarian batik sebagai warisan budaya lokal. Pemerintah desa berkomitmen untuk terus mendukung pengrajin agar program ini berkelanjutan.
Ke depan, Desa Srowot diharapkan dapat menjadi contoh pengembangan usaha mikro berbasis kearifan lokal yang mampu bersaing di era digital tanpa kehilangan identitas budayanya.
Sumber referensi: KBRN Purwokerto, 12 Juli 2025(sumber)